Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
BeritaEntertainmentGaya HidupIMLEKTerkiniWisata

Selain Lampion dan Barongsai: Saat Peringatan BMKG Warnai Libur Panjang imlek, Ada “Amanah Wali” hingga Drama Sengketa Tanah

Jakarta, 16 Februari 2026 — Jika mata Anda masih lelah memandang gemerlap lampion di Bundaran HI atau telinga Anda masih riuh oleh tabuhan barongsai, mungkin inilah saatnya untuk sejenak mengalihkan pandangan. Di balik euforia libur panjang Imlek yang membiru langit Ibu Kota, ada serangkaian realitas lain yang layak dicermati—dari peringatan dini gelombang tinggi di Samudra Hindia hingga kejutan di layar kaca yang justru mengangkat isu sosial yang jarang disentuh.

Hari ini, Senin (16/2/2026), adalah puncak dari rangkaian cuti bersama yang telah dinanti. Namun, bagi mereka yang berencana “cabut” dari hiruk-pikik Jakarta menuju pesona pantai barat Sumatera, ada “amplop kuning” dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang patut diwaspadai.

Biru Tua di Peta Gelombang: Imbauan yang Tak Boleh Diabaikan

BMKG, melalui Stasiun Meteorologi Maritim Belawan, mengeluarkan peringatan dini yang cukup serius. Potensi gelombang tinggi mencapai 4 meter diprediksi masih akan menghantam perairan barat Kepulauan Batu dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, Sumatera Utara, hingga hari ini .

“Masyarakat, khususnya nelayan dan pelaku pelayaran yang menggunakan perahu kecil, harus benar-benar waspada. Kecepatan angin yang bertiup dari barat laut mencapai 5-25 knot bisa sangat berisiko,” ujar Christin Ordein, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Belawan, dalam rilis resmi yang dikutip Sabtu lalu .

Peringatan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Bagi para perantau yang mudik memanfaatkan libur panjang, atau wisatawan yang hendak menikmati sunset di pesisir, imbauan ini adalah garis batas antara liburan yang menyenangkan dan petaka yang mengintai. Bayangkan, gelombang setinggi atap rumah yang menghempas kapal feri—risiko ini nyata dan sedang dipantau ketat oleh otoritas.

Cuaca Ekstrem Mengintai 27 Provinsi, Jakarta Masuk Daftar

Tak hanya gelombang tinggi di lautan, daratan pun tak luput dari perhatian BMKG. Dalam prakiraan cuaca untuk hari ini, badan meteorologi tersebut memprediksi adanya cuaca ekstrem yang melanda belasan hingga puluhan wilayah di Indonesia. Mulai dari Aceh, Jambi, Lampung, hampir seluruh Pulau Jawa (Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur), hingga Kalimantan, Sulawesi, dan Papua .

Khusus untuk wilayah DKI Jakarta dan Kepulauan Riau, BMKG memberikan catatan tambahan: potensi hujan yang disertai kilat dan angin kencang dalam durasi singkat . Artinya, meski langit Jakarta pagi ini cerah dan lengang tanpa ganjil genap, siapa pun yang berencana nongkrong di area car free night atau menyaksikan pertunjukan LED drone di Kota Tua malam nanti, disarankan untuk membawa jas hujan atau memantau langit secara berkala.

“Peringatan ini bertujuan agar masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir atau pohon tumbang,” tulis peringatan BMKG yang dikutip dari kanal resmi .

Ketika Layar Kaca Bicara Soal Sengketa Tanah

Di tengah hiruk-pikuk peringatan dini dan kemeriahan festival, industri hiburan Tanah Air tak mau ketinggalan menyapa publik. Hari ini menjadi hari yang ditunggu para penggemar sinetron tanah air. Pasalnya, “Amanah Wali 8: Musala dan Sultan” resmi tayang perdana di RCTI .

Yang menarik, sinetron ini tidak hanya mengandalkan komedi khas grup band Wali yang comeback setelah dua tahun vakum. Musim kedelapan ini mengusung cerita yang lebih dalam: tentang Sultan (diperankan Bhisma Mulia), seorang pemuda yang baru bebas dari penjara setelah dijebak ayahnya sendiri. Dendam membawanya menyembunyikan hasil rampokan di plafon sebuah musala di kampung. Dua tahun kemudian, saat kembali untuk mengambilnya, ia justru dihadapkan pada realitas pahit: musala yang berdiri di atas tanah wakaf itu tengah dilanda sengketa sengit antarwarga .

Inilah ironi yang disajikan di hari libur. Di satu sisi, kita merayakan kemeriahan dengan lampion dan hantaran nasi kotak berisi simbol kemakmuran. Di sisi lain, televisi nasional menyuguhkan drama tentang bagaimana sebidang tanah wakaf—yang sejatinya adalah aset umat—bisa menjadi sumber konflik. Isu sengketa tanah wakaf ini relevan, mengingat di berbagai daerah, kasus serupa masih kerap menghiasi ruang sidang.

“Tayang mulai Senin, 16 Februari 2026, setiap Senin–Jumat pukul 17.00 WIB serta Sabtu–Minggu pukul 16.30 WIB, sinetron ini siap menjadi teman ngabuburit yang hangat sekaligus menggugah,” tulis laporan SINDOnews .

Refleksi di Tengah Tawa dan Lampion

Mungkin tak banyak yang menyadari, bahwa hari ini, 16 Februari 2026, adalah mozaik kecil dari Indonesia yang kompleks. Ada keluarga yang tertawa lepas menyantap Yee Sang di restoran mewah kawasan Pantai Indah Kapuk, berharap kelimpahan di Tahun Kuda Api. Ada nelayan di pesisir Nias yang mencemaskan perahunya karena gelombang 4 meter. Ada warga Jakarta yang waswas karena prakiraan hujan petir. Dan ada pula pemirsa televisi yang mungkin tercenung menyaksikan drama sengketa tanah wakaf.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah mendesain perayaan ini sebagai “ruang kolaborasi budaya” . Kepala Dinas Parekraf DKI Jakarta, Andhika Permata, menyebut Imlek Jakarta 2026 sebagai momentum mempertemukan tradisi, kreativitas, dan modernitas Jakarta sebagai kota global .

Namun, kolaborasi sejati mungkin tak hanya terjadi di panggung-panggung festival. Kolaborasi itu terjadi ketika kita, sebagai warga, mampu merayakan sukacita tanpa melupakan mereka yang tengah berjuang melawan cuaca, atau ketika kita bisa menikmati tontonan ringan namun tetap peka terhadap pesan sosial yang disampaikan.

Jadi, jika malam ini Anda memilih untuk berdiri di bawah lampion Bundaran HI sambil sesekali menengok layar ponsel untuk memantau prakiraan cuaca, atau memilih rebah di rumah menyaksikan drama “Amanah Wali 8”, ingatlah: libur panjang ini bukan sekadar soal berhentinya putaran ganjil genap. Ini adalah tentang bagaimana kita, sebagai bangsa, bernapas bersama—di tengah ancaman alam, kemeriahan budaya, dan renungan yang disuguhkan oleh karya anak bangsa.

Back to top button